| Banyaknya pasien DBD yang dirawat, membuat pihak RSUD Bob Bazaar Kalianda, terpaksa memberikan perawatan kepada anak diluar kamar perawatan. |
KALIANDA - Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menjangkit puluhan warga di Kabupaten Lampung Selatan membuat kapasitas ruang perawatan di RSUD dr. Bob Bazar, S.K.M, Kalianda, penuh. Saking penuhnya, tidak sedikit pasien dirawat ditempat yang bukan selayaknya. Yakni dilorong masuk ruang perawatan.
Hal tersebut terlihat di ruang perawatan khusus anak-anak. Ada tiga pasien yang dirawat ditempat tersebut. Setiap ruangan yang berkapasitas 6 pasien itu memang tidak dapat menampung banyaknya warga yang dirawat karena DBD.
Hingga Selasa (8/1) kemarin, sebanyak 54 orang pasien terduga DBD dirawat di RSUD Bob Bazaar Kalianda. Namun hingga saat ini mereka yang terduga suspect DBD itu masih menjalani observasi untuk memastikan apakah positif DBD atau tidak. Dari jumlah itu, tiga 3 diantaranya dinyatakan positif DBD.
Ketiga orang tersebut diantaranya Wayan (32) warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Susi Ernawati (21) Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, dan Yudi Agustin (16) warga Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang.
Plt. Direktur RSUD dr. Bob Bazar Suherman, S.K.M mengakui kelebihan kapasitas tempat perawatan tersebut. "Hal tersebut memang terjadi, karena pasien yang datang dari daerah Kecamatan Ketapang cukup banyak, belum lagi dari keccamatan lainnya. Bahkan karena kapasitas pasien suspect DBD cukup banyak maka terpaksa kami mengambil kebijakan untuk memisahkan pasien yang suspect DBD dengan pasien umum," ujarnya kepada Radar Lamsel, Selasa (8/1)
Pihak RSUD juga memisahkan pasien dewasa dan anak-anak. “Meskipun sama-sama suspect DBD, namun tidak bisa dijadikan satu antara pasien dewasa dan pasien anak-anak. Sehingga harus dipisahkan, “ tambahnya.
Dari sekitar 54 orang tersebut beberapa diantaranya pasien dewasa dan pasien anak-anak. Beberapa diantaranya sudah dirujuk ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek, Bandarlampung. Pasien yang dirujuk tersebut untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik di RSUAM. “Pasien tersebut tidak semuanya positif DBD. Karena, untuk menentukan apakah terkena DBD atautidak perlu observasi terlebih dahulu, “ jelasnya sambil mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan observasi itu rampung.
Jurniah (45) seorang warga Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang bahkan membawa cucunya Adi Febriansah (3) karena kepanasan. Ia mengaku dengan ruangan yang ada dan diisi oleh 6 pasien membuat pasien tidak nyaman. Ia mengaku membawa Adi Febriansah karena panas demam tinggi sekitar empat hari yang lalu. Namun sementara ini belum ada kejelasan apakah cucunya tersebut terkena DBD atau hanya panas biasa.
"Di dalam kan selain pasien, ada juga orangtua yang menunggu. Namanya juga anak-anak tak mungkin ditinggal sendiri, kadang malah minta digendong karena nangis, " ujar Jurniah .
Hal senada juga diungkapkan Doni (29) yang membawa anaknya yang berusia 10 bulan keluar ruang perawatan karena menderita panas tinggi. Ia bahkan harus bergantian dengan istrinya untuk menggendong anaknya yang masih balita tersebut. "Kata dokternya masih diobservasi dulu. Tapi saya juga khawatir dengan bercak-bercak merah yang timbul dikulit anak saya. Kata teman saya, itu tanda-tanda penyakit DBD," pungkasnya. (ams)
Hal tersebut terlihat di ruang perawatan khusus anak-anak. Ada tiga pasien yang dirawat ditempat tersebut. Setiap ruangan yang berkapasitas 6 pasien itu memang tidak dapat menampung banyaknya warga yang dirawat karena DBD.
Hingga Selasa (8/1) kemarin, sebanyak 54 orang pasien terduga DBD dirawat di RSUD Bob Bazaar Kalianda. Namun hingga saat ini mereka yang terduga suspect DBD itu masih menjalani observasi untuk memastikan apakah positif DBD atau tidak. Dari jumlah itu, tiga 3 diantaranya dinyatakan positif DBD.
Ketiga orang tersebut diantaranya Wayan (32) warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Susi Ernawati (21) Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, dan Yudi Agustin (16) warga Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang.
Plt. Direktur RSUD dr. Bob Bazar Suherman, S.K.M mengakui kelebihan kapasitas tempat perawatan tersebut. "Hal tersebut memang terjadi, karena pasien yang datang dari daerah Kecamatan Ketapang cukup banyak, belum lagi dari keccamatan lainnya. Bahkan karena kapasitas pasien suspect DBD cukup banyak maka terpaksa kami mengambil kebijakan untuk memisahkan pasien yang suspect DBD dengan pasien umum," ujarnya kepada Radar Lamsel, Selasa (8/1)
Pihak RSUD juga memisahkan pasien dewasa dan anak-anak. “Meskipun sama-sama suspect DBD, namun tidak bisa dijadikan satu antara pasien dewasa dan pasien anak-anak. Sehingga harus dipisahkan, “ tambahnya.
Dari sekitar 54 orang tersebut beberapa diantaranya pasien dewasa dan pasien anak-anak. Beberapa diantaranya sudah dirujuk ke Rumah Sakit Abdoel Moeloek, Bandarlampung. Pasien yang dirujuk tersebut untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik di RSUAM. “Pasien tersebut tidak semuanya positif DBD. Karena, untuk menentukan apakah terkena DBD atautidak perlu observasi terlebih dahulu, “ jelasnya sambil mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kapan observasi itu rampung.
Jurniah (45) seorang warga Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang bahkan membawa cucunya Adi Febriansah (3) karena kepanasan. Ia mengaku dengan ruangan yang ada dan diisi oleh 6 pasien membuat pasien tidak nyaman. Ia mengaku membawa Adi Febriansah karena panas demam tinggi sekitar empat hari yang lalu. Namun sementara ini belum ada kejelasan apakah cucunya tersebut terkena DBD atau hanya panas biasa.
"Di dalam kan selain pasien, ada juga orangtua yang menunggu. Namanya juga anak-anak tak mungkin ditinggal sendiri, kadang malah minta digendong karena nangis, " ujar Jurniah .
Hal senada juga diungkapkan Doni (29) yang membawa anaknya yang berusia 10 bulan keluar ruang perawatan karena menderita panas tinggi. Ia bahkan harus bergantian dengan istrinya untuk menggendong anaknya yang masih balita tersebut. "Kata dokternya masih diobservasi dulu. Tapi saya juga khawatir dengan bercak-bercak merah yang timbul dikulit anak saya. Kata teman saya, itu tanda-tanda penyakit DBD," pungkasnya. (ams)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar