SIDOMULYO - Meski curah hujan dengan intensitas cukup tinggi saat ini, namun petani di Desa Sidowaluyo, Kecamatan Sidomulyo masih memanfaatkan mesin penyedot air untuk mengambil air dari saluran irigasi. Sebab, saluran air yang ada berada lebih rendah dari lahan pertanian.
Budi (35), salah seorang petani yang baru menyedot air menggunakan mesin penyedot saat ditemui dipinggir saluran irigasi mengaku, setiap kali menjelang musim tanam harus menyedot air. Ini dikarenakan, air tidak cukup menggenangi lahannya yang akan dibajak dan harus dilakukan dengan menambah air melalui saluran irigasi.
"Kalau tidak pakai mesin penyedot, akan sangat sulit memenuhi kebutuhan air dilahan pertanian. Apalagi sekarang ini, debit air yang disalurkan melalui saluran irigasi masih sangat kecil. Jadi kita harus cepat-cepat berburu air, agar benih yang sudah diap tanam bisa segera ditanam. Karena kalau harus menunggu sampai satu minggu kedepan, akan sangat banyak petani yang butuh air,"ujar Budi, Senin (3/12).
Hal sama dikatakan Wayan (45). Setiap kali musim tanam rendeng, ia harus menyedot air dari saluran irigasi sepanjang kurang lebih 300 meter menggunakan dua mesin. Penyedotan tersebut dikarenakan tidak adanya saluran primer yang dekat dengan lahan pertaniannya.
"Memang seperti ini terus kondisinya dan kita harus siap dengan mesin penyedot sampai dua unit. Karena kalau hanya mengandalkan mesin satu unit sangat sulit airnya sampai di sawah. Harapan kami, ada penambahan saluran primer yang dekat dengan lahan pertanian,"ujar Wayan.
"Kalau sudah ada penambahan saluran primer dan debit air cukup dari bendungan. Kami bisa menanam tanaman lainnya dimusim gadu atau musim kemarau. Tentunya kami petani disini berharap akan mendapatkan tambahan hasil selain menunggu panen padi di musim rendeng ini,"pungkasnya.
Sementara itu, Petugas pintu air Bendungan Katibung, Tupon mengaku, saat ini pintu air yang membagi air kesaluran irigasi banyak yang tertutup sampah. Untuk membagi air, setiap hari sampah harus dibersihkan agar air dapat berjalan dengan lancar. Sebelum sampah bersih, pintu air hanya dibuka kecil dan mencukupi kebutuhan petani yang belum banyak melakukan penanaman.
"Sekarang kita buka kecil, karena pintu airnya tersumbat sampah. Kalau kita paksakan dibuka terlalu besar, kami kawatir sampah akan menutup pintu air yang terpasang besi penahan sampah. Mudah-mudahan sampah yang menyumbat sekarang ini akan terbawa air besar melewati punggung gajah saat hujan deras nanti. Sehingga kami bisa membuka pintu air lebih besar lagi,"kata Tupon. (gus)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar