CANDIPURO - Kasus unggas mati secara mendadak terus terjadi di Kabupaten Lampung Selatan. Bahkan, kasus tersebut terus meluas keberbagai kecamatan di Lamsel. Yang terbaru, kasus terjadi di Kecamatan Candipuro. di Kecamatan Candipuro unggas mati terjadi sejak dua pekan belakangan ini. Di Candipuro petugas Dinas Peternakan menyebutkan unggas mati itu dari jenis ayam, itik dan bebek entok. Hingga kini pihak Disnak terus melakukan pemantauan ke desa-desa dan langsung memberikan semprotan disinvektan ke kandang-kandang yang menyebabkan unggas mati.
Plh. Kepala UPT Disnak Kecamatan Candipuro dan Way Sulan, Hi. Babay Shobari mengakui serangan virus yang diduga AI mulai menyerang ayam, bebek dan mentok di Candipuro. Dari data yang dihimpun, unggas mati mendadak itu terjadi disejumlah desa yang ada di Candipuro. Antara lain bebek milik Parjo (60) warga Desa Bumijaya sebanyak 30 ekor mati dan telah dikubur, 11 ekor bebek entok milik Suyat (40) di Desa Beringin Kencana plus 2 ekor bebek mati, 6 ekor bebek entok dan 16 ekor ayam milik Sukijan (42) warga Beringin Kencana, dan 18 ekor ayam milik parjo (45) di Dusun Cirebon, Desa Cintamulya juga mati mendadak.
"Kami mendapatkan laporan setelah unggas mati dan dikubur, sehingga kita tidak mengetahui apakah unggas tersebut terkena virus AI atau bukan. Makanya kita terus melakukan pemantauan ke semua desa dan menanyakan kepada pamong desa apakah ada unggas yang mati mendadak. Ditempat unggas yang mati, kita langsung melakukan penyemprotan agar virus cepat mati dan tidak menyebar ke unggas yang lainnya,"kata Babay Shobari, Selasa (8/1).
Disnak juga mengaku dibuat heran dengan kasus unggas mati mendadak di Kecamatan Candipuro. Sebab, kasus itu terjadi disejumlah tempat dengan jenis unggas yang berbeda. "Biasanya dalam satu tempat virus AI menyerang unggas apapun, tetapi sekarang saya lihat hanya satu jenis saja. Seperti di Bumijaya hanya bebek dan di Cintamulya hanya ayam. Kami berharap, warga yang merasa ayamnya mati mendadak agar melaporkan kepada kami sebelum dikubur, sehingga kita bisa tahu penyebab kematiannya,"imbuhnya.
Camat Candipuro, Drs. Sumardi mengharapkan kepada petugas dari Disnak agar melakukan penyemprotan di kandang-kandang milik warga lain yang berdekatan dengan warga yang unggasnya mati mendadak. Selain itu, disiplin warga dalam membersihkan kandang dan lingkungan juga harus dilakukan, sehingga unggas terjaga kesehatannya.
"Jangan hanya dikandang milik warga yang unggasnya mati yang disemprot dengan disinvektan, tetapi radius 100 meter dari lokasi tersebut juga harus disemprot. Namun kunci utama agar ternak tidak terserang penyakit atau virus harus dari warga sendiri. Karena dengan lingkungan bersih akan jauh dari penyakit. Memanfaatkan air sabun bekas cucian juga bisa digunakan dan itu juga bisa membuat virus mati,"kata Sumardi. (gus)
Plh. Kepala UPT Disnak Kecamatan Candipuro dan Way Sulan, Hi. Babay Shobari mengakui serangan virus yang diduga AI mulai menyerang ayam, bebek dan mentok di Candipuro. Dari data yang dihimpun, unggas mati mendadak itu terjadi disejumlah desa yang ada di Candipuro. Antara lain bebek milik Parjo (60) warga Desa Bumijaya sebanyak 30 ekor mati dan telah dikubur, 11 ekor bebek entok milik Suyat (40) di Desa Beringin Kencana plus 2 ekor bebek mati, 6 ekor bebek entok dan 16 ekor ayam milik Sukijan (42) warga Beringin Kencana, dan 18 ekor ayam milik parjo (45) di Dusun Cirebon, Desa Cintamulya juga mati mendadak.
"Kami mendapatkan laporan setelah unggas mati dan dikubur, sehingga kita tidak mengetahui apakah unggas tersebut terkena virus AI atau bukan. Makanya kita terus melakukan pemantauan ke semua desa dan menanyakan kepada pamong desa apakah ada unggas yang mati mendadak. Ditempat unggas yang mati, kita langsung melakukan penyemprotan agar virus cepat mati dan tidak menyebar ke unggas yang lainnya,"kata Babay Shobari, Selasa (8/1).
Disnak juga mengaku dibuat heran dengan kasus unggas mati mendadak di Kecamatan Candipuro. Sebab, kasus itu terjadi disejumlah tempat dengan jenis unggas yang berbeda. "Biasanya dalam satu tempat virus AI menyerang unggas apapun, tetapi sekarang saya lihat hanya satu jenis saja. Seperti di Bumijaya hanya bebek dan di Cintamulya hanya ayam. Kami berharap, warga yang merasa ayamnya mati mendadak agar melaporkan kepada kami sebelum dikubur, sehingga kita bisa tahu penyebab kematiannya,"imbuhnya.
Camat Candipuro, Drs. Sumardi mengharapkan kepada petugas dari Disnak agar melakukan penyemprotan di kandang-kandang milik warga lain yang berdekatan dengan warga yang unggasnya mati mendadak. Selain itu, disiplin warga dalam membersihkan kandang dan lingkungan juga harus dilakukan, sehingga unggas terjaga kesehatannya.
"Jangan hanya dikandang milik warga yang unggasnya mati yang disemprot dengan disinvektan, tetapi radius 100 meter dari lokasi tersebut juga harus disemprot. Namun kunci utama agar ternak tidak terserang penyakit atau virus harus dari warga sendiri. Karena dengan lingkungan bersih akan jauh dari penyakit. Memanfaatkan air sabun bekas cucian juga bisa digunakan dan itu juga bisa membuat virus mati,"kata Sumardi. (gus)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar