Petani Tunda Tanam
PALAS - Menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan, masyarakat Desa Pulau Tengah, Kecamatan Palas mengumpulkan karung secara swadaya dan diisi dengan tanah.
PALAS - Menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan, masyarakat Desa Pulau Tengah, Kecamatan Palas mengumpulkan karung secara swadaya dan diisi dengan tanah.
Karung tersebut digunakan untuk membendung pintu-pintu air yang berada tanggul sungai Way Pisang desa tersebut. Hal ini dilakukan, guna mengatisipasi adanya luapan air dari sungai way pisang yang dapat mengakibatkan banjir.
Pjs. Kades Pulau Tengah, Suhadi menjelaskan, dirinya bersama warga lainnya berinisiatif melakukan gotong royong membendung empat pintu air yang berada didesanya. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi masuknya luapan air dari sungai way pisang yang kini debit airnya semakin meningkat.
"Debit air sungai way pisang terus bertambah. Jika kami tidak menutup rapat pintu-pintu air tersebut, dikhawatirkan luapan air bisa menggenangi areal persawahan kami. Meski, daerah kami menjadi langganan banjir saat musim hujan, tetapi kami akan terus berupaya, agar lahan persawahan kami tidak kebanjiran," ujarnya kepada Radar Lamsel, kemarin.
Suhadi juga berharap, adanya bantuan dari pemerintah terhadap antisipasi bencana banjir, yang menjadi langganan didesa ini. "Setiap tahun kami menjadi langganan banjir mas. Untuk itu, kami sangat mengarapkan adanya bantuan berupa karung dan peralatan lainnya. Supaya tahun ini dan kedepan, kami tidak menderita lagi, karena banjir,"pintanya.
Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Palas, Putut Legiatmiko mengatakan, saat ini seluruh staf yang ada dikecamatan, terus melakukan pemantauan keliling desa. Bahkan, kami juga tetap berkordinasi dengan aparatur desa dan UPT yang ada di Kecamatan Palas.
"Meski dalam kondisi aman, tetapi kami masih tetap siaga banjir. Bahkan, seluruh pintu air dan bendungan yang ada di Palas, tidak luput dari pantauan kami. Yang jelas, jika semua saluran berfungsi normal, mudah-mudahan tidak ada areal persawahan dan pemukiman warga terendam banjir,"pungkas pria berambut putih.
Sementara itu, sebagian petani petani di Kecamatan Palas memilih untuk menunda tanam padi dimusim rendeng (penghujan, red) kali ini. Petani tidak ingin mengambil resiko jika dalam waktu dekat ini tanaman padi mereka akan mati karena terendam banjir.
Abdul Gofur (28), petani Desa Palas Pasemah mengatakan, keinginan petani setempat menunda menanam padi saat ini dikarena, tidak ingin kembali menanggung kerugian seperti yang sudah. Terlebih pada saat musim rendeng, dibarengi dengan curah hujan tinggi seperti ini, lahan persawahannya sangat rawan banjir.
"Jadi kalau kami memilih menunggu sampai benar tidak akan terjadi banjir. Meskipun saat ini belum terjadi banjir, namun hujan masih sering turun. Kami takut saat kami baru mulai menanam benih padi yang kami sebar akan habis dilalap banjir. Jadi lebih baik kami menunggu sampai lahan persawahan kami terbilang aman,"kata Abdul, Jum'at (25/1).
Hal berbeda dikatakan Eko (4O) petani asal Desa Palas Aji, menurutnya permasalahan banjir ini sudah menjadi langganan setiap kali musim rendengan. Tapi ini bukan menjadi alasan bagi pihaknya untuk menunda menyebar benih padinya saat ini.
"Karena itu saya lebih memilih untuk menanam saat ini. Karena dengan saya menanam lebih awal, karena saya bisa memanen lebih awal dan saya bisa mempersiapkan untuk tanam selanjutnya. Kalau masalah banjir dan kemarau itu sudah menjadi resiko seorang petani," pungkasnya.(ams)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar