Home » » Banjir Rendam 872 Hektar Padi dan 38 Kelapa Sawit

Banjir Rendam 872 Hektar Padi dan 38 Kelapa Sawit

Written By Radar Lamsel on Minggu, 27 Januari 2013 | 22.59

Hamparan tanaman padi di Rawa Jurang, Kecamatan Candipuro menjadi lautan. Dari data DPTPH Kecamatan Candipuro, banjir menenggelamkan 872 hektar di 13 Desa se-Kecamatan Candipuro.


CANDIPURO - Hujan deras sejak tiga hari merendam 872 hektar tanaman padi di 13 Desa yang ada di Kecamatan Candipuro. Genangan air pada tanaman padi berumur 15-30 hari jika berlangsung hingga 4 hari lebih, dikawatirkan akan mengakibatkan tanaman menjadi rusak dan puso. Kini para petani hanya bisa pasrah melihat tanaman padinya tergenang air hingga 1 meter lebih.
 
Dari data yang tercatat di Kantor Kantor Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kecamatan Candipuro, tanaman padi yang terkena banjir di Desa Titiwangi seluas 25 hektar, Trimomukti seluas 40 hektar, Sinar Palembang seluas 15 hektar, Rantau Minyak seluas 8 hektar, Bumijaya seluas 50 hektar, Karya Mulyasari seluas 30 hektar, Cintamulya seluas 40 hektar.
 
Selanjutnya, Desa Banyumas seluas 40 hektar dan Sidoasri seluas 10 hektar,  Desa Rawaselapan 80 hektar, Way Gelam seluas 200 hektar, Beringin Kencana 288 hektar dan Sinar Pasemah seluas 202 hektar.
 
Sementara itu di Kecamatan Sidomulyo, banjir juga menenggelamkan tanaman padi seluas 125 hektar yang terdapat di Desa Sidorejo 25 hektar, Sidowaluyo 85 hektar dan Sidomulyo 15 hektar. Sedangkan di Kecamatan Way Panji, banjir menenggelamkan tanaman padi  seluas 63 hektar di Desa Balinuraga seluas 33 hektar, Sidoreno 15 hektar dan Sidoharjo 15 hektar.
    Sedangkan tanaman sawit yang terendam banjir terdapat di Desa Way Gelam seluas 30 hektar, 5 hektar di Desa Sinar Pasemah dan 3 hektar di Desa Beringin Kencana. Meski tergenang banjir, tanaman kelapa sawit tidak akan mati. Namun dikawatirkan akan memperangaruhi kondisi buahnya.
 
Suwari (40) petani di Desa Sinar Pasemah yang lahan seluas 2 hektar mengaku, tanaman padinya saat ini sudah tidak terlihat karena tingginya air yang menggenangi tanaman. Ia berharap, Pemerintah bisa memberikan bantuan benih agar bisa ditaman saat air sudah mulai surut. Hal tersebut dikarenakan, tanaman sudah 4 hari tergenang air sejak hari Kamis lalu.
 
"Karena tingginya curah hujan dan air yang mengalir dari desa tidak bisa mengalir ke tanggul penangkis membuat tanaman padi menjadi terendam. Kemungkinan besar, tanaman sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan membusuk. Ini karena umur tanaman masih muda dan tanaman padi tidak akan kuat dalam waktu 4 hari jika terus terendam ari," ujar Suwari, Sabtu (26/1).
 
Hal serupa dikatakan salah seorang Ketua Kelompok Tani di Desa Beringin Kencana, Margono (43) yang anggotanya memiliki lahan pertanian di Rawa Jurang. Tanaman padi berumur kurang dari satu bulan sebagian besar terendam air dan dikawatirkan mengalami puso. Petani tidak bisa berbuat banyak, karena air yang menggenangi tanaman akan surut setelah DAS Way Katibung mengalami penurunan debit air.
 
"Karena tanaman padi sudah terendam air terlalu lama, padi akan mengalami kerusakan dan tidak akan hidup lagi meskipun airnya sudah surut. Kondisi seperti ini, sudah sering petani rasakan dan biasanya sampai 2-3 kali tanam baru bisa panen. Agar kami bisa tanam lagi, mohon kiranya ada bantuan benih secepatnya agar kami bisa tanam ulang,"ujar Margono.
 
Sementara itu, Sarkim (60) petani di Desa Way Gelam yang memiliki lahan seluas 1,5 hektar mengaku, tanaman padinya sudah terendam air sejak Kamis lalu dan sampai sekarang belum surut. Bahkan kondisi air yang semakin tinggi dan diperkirakan akan mengakibatkan tanaman padinya menjadi rusak.
 
"Tadinya saya berharap akan bisa panen pada musim rendang tahun ini. Bahkan saat musim tanam kemarin, kami semua kesulitan air dan harus menyedot air dari DAS Way Gelam. Melihat kondisi air seperti sekarang ini, kami seakan tidak percaya dan hanya pasrah saja meski harus tanam ulang. Mudah-mudahan saja, tanam nanti tidak ada banjir lagi dan kami semua bisa panen,"kata Sarkim.
 
Kepala UPT DPTPH Kecamatan Candipuro, Legiyem, S.PKP didampingi Koordinator Penyuluh Pertanian, Perikanan, peternakan, perkebunan dan Kehutanan Kecamatan Candipuro, Suanda, A.Md mengakui, banjir mengakibatkan tanaman padi semakin luas yang tergenang. Dari sebelumnya hanya 131 hektar saat ini menjadi 872 hektar. Lahan yang tergenang banjir terus dilakukan pemantauan dan penangannya berkoordinasi dengan Dinas/Intansi terkait serta melibatkan petani.
 
"Ini sudah kita laporkan ke DPTPH Kabupaten Lamsel dan Kepala DPTPH Lamsel (Ir. Muverdi. CH) sudah melihat langsung ke lokasi. Kemungkinan besar memang banyak tanaman yang mengalami puso, tetapi kita belum tahu berapa luasannya. Ini dikarenakan air belum surut dan masih ada tanaman padi yang belum terlihat akibat tertutup air,"kata Legiyem. (gus)
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Radar Lamsel - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website